Sedikit
pengetahuan tentang setting dan pemakaian yang tepat, kamera digital
anda akan mampu menghasilkan foto yang lebih indah dibandingkan dengan
menggunakan metode auto atau asal jeprat-jepret tanpa menggunakan
settingnya, sepertinya akan sangat disayangkan. Kalau kamera anda
dilengkapi dengan setting manual, sebaiknya anda mulai membiasakan diri
untuk memanfaatkan mode tersebut demi memperoleh tampilan foto yang
lebih indah dari biasanya.Kamera digital itu punya dua sisi yang saling
berlawanan. Di satu sisi, kamera digital menawarkan banyak kemudahan,
namun disisi lain, kamera digital juga menawarkan berbagai fitur canggih
yang rumit dan sulit untuk dipahami. Meski cukup rumit, namun, bukan
berarti fitur-fitur tersebut tidak bisa dipelajari dan jika kita tahu
cara menggunakannya dengan efektif, maka fitur-fitur tersebut akan
sangat membantu untuk menghasilkan photo-photo yang luar biasa.
Banyak
pengguna kamera digital yang masih enggan dan takut untuk menggunakan
kameranya dengan mode manual. Hal ini mungkin disebabkan begitu
banyaknya pilihan menu, padahal jika anda mengerti akan hal ini maka
hasil foto anda akan terlihat berbeda.
Salah satu
tantangan terbesar yang sering dihadapi oleh kebanyakan orang adalah
mengatur setting exposure yang tepat untuk menghasilkan tampilan foto
yang indah, terutama foto pemandangan/landscape.
Shutter Speed (S atau TV)
Merupakan
ukuran atau kecepatan bukaan pengatur cahaya kamera. Semakin lama bukaan
cahayanya, semakin banyak cahaya yang diterima sensor untuk menerangi
subjek. Oleh karena itu exposure sangat berperan dalam fotografi.
Umumnya shutter speed terdiri dari urutan angka 1, 2,4,8, 15, 30, 60,
125, 250, 500, 1000 dan seterusnya. Kecepatan bukaan cahaya adalah 1 per
ukuran ISO Speed. Misalnya ukuran ISO Speed 2 berarti cahaya membuka
selama ½ detik, ISO Speed 4 berarti cahaya membuka selama ¼ detik,
begitu juga seterusnya. Untuk kecepatan diatas 1 detik digunakan tanda “
(tanda petik dua), sebagai contoh, 1” berarti 1 detik. ISO Speed
mempengaruhi cahaya yang masuk. Semakin cepat bukaan cahayanya, semakin
sedikit cahaya yang masuk.
Shutter Speed yang cepat ideal digunakan untuk memotret subjek yang
bergerak atau mengabadikan suasana olahraga. Pada kecepatan 1/500 per
detik, shutter akan menangkap apa yang terlihat sekama rentang waktu
tersebut.
Untuk mengabadikan pemandangan di malam hari (night shot) atau suasana
yang agak gelap, anda perlu memperlambat shutter speed agar sensor lebih
banyak menangkap cahaya untuk menerangi subjek. Untuk menghasilkan
gambar yang indah saat menggunakan shutter speed yang rendah, diperlukan
treepost atau alat lain untuk menyangga kamera. Sebab, jika tangan anda
goyang, hasil foto akan tampak kabur atau tidak fokus.
Aperture (A atau AV)
Jika
shutter speed menentukan lamanya bukaan shutter, maka ukuran aperture
(diafragma) menentukan jumlah cahaya yang masuk. Besarnya diameter
terbukanya diafragma akan membuat cahaya yang masuk menjadi lebih
banyak, sehingga exposure cahaya bertambah, demikian pula sebaliknya.
Aperture juga menentukan ketajaman fokus (depth of field) dari semua
background objek dalam gambar. Dengan cara ini anda dapat menentukan
apakah anda ingin mengambil fokus pada satu objek saja, atau ingin
menyertakan background yang sama jelasnya dengan subjek utama. Semakin
kecil ukuran aperture maka semakin besar depth of field yang anda
dapatkan. Ukuran aperture yang kecil sesuai untuk mengambil foto
pemandangan atau tempat yang luas meski membutuhkan depth of field yang
besar. Namun jika anda merasa terganggu dengan background subjek
sebaiknya set ukuran aperture menjadi lebih besar. Dalam kamera, angka
yang yang digunakan untuk menentukan ukuran aperture dilambangkan dengan
f-stop (factorable stop). Semakin besar angka f-stop, semakin kecil
ukuran aperturenya. Jadi angka f8.0 akan mengindikasikan ukuran aperture
yang lebih kecil dari f2.0.
Kualitas Exposure (EV)
Kamera digital merupakan teknologi pintar yang dapat membantu anda
memperoleh foto dengan komposisi yang sempurna. Untuk itu ada tiga
metode bantuan yang ada pada kamera digital prosumer:
Histogram: tool ini banyak digunakan oleh fotografer amatir.
Histogram adalah grafik yang membantu anda mengetahui pencahayaan
(brightness) gambar yang tertangkap oleh kamera. Bagian kiri grafik
ditujukan untuk jumlah pixel gelap dan bagian kanan untuk pixel terang.
Jadi jika grafik terlihat. Jika grafik terlihat lebih tinggi di bagian
kiri, foto yang anda ambil terlalu gelap (under-exposed) dan jika grafik
terlihat lebih tinggi di bagian kanan maka foto yang anda ambil terlalu
terang (over-exposed). Untuk mendapatkan pencahayaan atau exposure yang
tepat, histogram harus terlihat lebih tinggi di bagian tengah. Note:
anda tidak perlu melihat histogram ini secara terus-menerus. Experiment
bisa membantu anda mendapatkan setting exposure yang tepat untuk hasil
foto yang sempurna.
Exposure Compensation: jika ada area tertentu yang terlalu
terang, agak sulit mendapatkan setting exposure yang tepat. Disinilah
diperlukan adanya exposure compensation atau exposure value (EV). Anda
dapat membuka atau menutup aperture untuk menambah atau mengurangi
cahaya yang masuk. Pilihan exposure compensation dapat anda temukan di
setting-an kamera, yang ditunjukkan dengan skala yang memiliki range
dari +2 (atau lebih tinggi) sampai -2 (atau lebih rendah). Skala yang
lebih tinggi akan menambah cahaya yang lebih banyak pada gambar yang
dibutuhkan saat pengambilan foto dalam cahaya remang-remang. Sedangkan
skala negatif akan menjadikan gambar semakin gelap.
Bracketing: agar terhindar dari kesalahan men-setting exposure
anda bisa menggunakan mode bracketing. Dalam mode bracketing kamera anda
akan menghasilkan tiga gambar sekaligus dalam sekali penekanan tombol
shutter. Salah satu dari tiga gambar tersebut mengguna kan setting
exposure yang telah anda set sebelumnya, sedangkan dua gambar yang lain
menggunakan setting exposure yang rendah dan tinggi. Anda dapat juga
mengubah settingan exposure pada ketiga gambar tersebut secara manual.
Kunci mendapatkan nilai exposure yang tepat adalah mengatur nilai yang
seimbang antara shutter speed dan aperture. Sebaiknya, jika ada
perubahan pada ukuran aperture sebaiknya diiringi dengan perubahan pada
shutter speed.
Metode Metering
Kembali ke fotografi menggunakan film, light meter digunakan untuk
menetukan intensitas cahaya disekeliling objek. Untuk itu fotografer
akan mengatur setting exposure kameranya terlebih dahulu sebelum
mengambil gambar. Saat ini kamera digital sudah dilengkapi dengan
beberapa light meter build in pintar. Untuk mengaktifkan light meter,
cukup arahkan kameranya ke objek dan tekan tombolnya setengah. Kamera
akan secara otomatis akan membaca kondisi cahaya dan akan menyarankan
setting exposure terbaik.
Kamera prosumer memungkinkan anda memilih metode light metering yang
sesuai dengan keinginan anda. Anda tetap dapat menggunakan setting
default untuk mendapatkan hasil foto yang indah. Namun untuk mendapatkan
cahaya yang tepat dan sempurna, anda perlu mengatur metode metering
yang tepat. Berikut ini beberapa metode metering yang bisa anda pilih.
Matrix Metering: metode ini akan membaca beberapa area melalui
pemandangan dan membagi rata nilai tersebut. Pilihan ini sangat sesuai
digunakan saat seluruh cahaya memiliki kondisi cahaya rata.
Spot Metering: seperti namanya, digunakan untuk mendapatkan detail tertentu secara maksimal.
Center-weight Metering: disini, setting exposure diatur menurut
cahaya yang jatuh dibagian tengah frame. Cara ini sangat bagus digunakan
untuk pengambilan foto dimana objek hampir memenuhi frame.
ISO dalam fotografi digital menandakan seberapa sensitif sensor terhadap
cahaya. Tiap kamera punya ISO dasar (atau ISO terendah) yang umumnya
diantara ISO 80 hingga ISO 200. Di ISO terendah ini sensor memberikan
hasil foto yang rendah noise sehingga umumnya kebanyakan orang
membiarkan kameranya selalu memakai ISO rendah. Padahal adanya pilihan
nilai ISO pada kamera disediakan tentu untuk kemudahan kita, dan kapan
memakai ISO rendah dan kapan harus menaikkan ISO tentu perlu kita
pahami.
- ISO rendah (ISO 80 – 200) cocok untuk dipakai sehari-hari, selama cahaya sekitar cukup terang seperti saat memotret di siang hari. ISO rendah juga bisa dipilih bila kita ingin fotonya terhindar dari noise atau saat sedang bermain slow speed.
- ISO menengah (ISO 400 – 800) bisa jadi nilai kompromi antara sensitivitas dan noise, dalam arti di ISO menengah ini kita mendapat sensor yang lebih sensitif namun dengan noise yang tidak terlalu tinggi. Gunakan ISO menengah bila cahaya sekitar sudah mulai redup, atau saat memakai ISO dasar ternyata shutter speed terlampau lambat dan berpotensi blur. Noise yang muncul akibat memakai ISO menengah ini masih bisa dikurangi memakai software komputer.
- ISO tinggi (ISO 1000 – 6400) adalah peningkatan ekstrim dari sensitivitas sensor yang akan membuat sensor sangat sensitif terhadap cahaya sekaligus membuat banyak noise pada foto. Gunakan ISO tinggi bila cahaya yang ada tidak mencukupi bagi kamera untuk mendapat eksposur yang tepat, atau bila kita ingin mendapatkan shutter speed yang tinggi. Pada kebanyakan kamera digital, ISO tinggi umumnya memberi hasil foto yang penuh noise dan kurang baik untuk dicetak.

0 komentar:
Posting Komentar